[NEW] 12 Kuliner Chinatown Pancoran – Nostalgia di Petak Sembilan, Glodok

Kawasan Pecinan (Chinatown) yang berada di Petak Sembilan (Glodok – Jakarta Barat) ini selalu saja membuat kami kangen! Bukan sekedar pusat elektronik saja, tapi kawasan Glodok juga merupakan satu kawasan bisnis bersejarah sejak dulu kala dan sebagian besar etnis Tionghia tinggal di sekitar kawasan ini. Jangan heran bila kalian melihat banyak sekali para pedagang yang menjual barang dagangannya di daerah ini; sekilas kita merasa seperti berada di jaman tempo dulu, namun justru hiruk pikuk dan ramainya pengunjung serta jumlah pedagang yang terlalu banyak, pemandangan inilah yang selalu menjadi ciri khas Chinatown di ibukota Jakarta. Pernak pernik hiasan, pedagang obat, penjual baju, penjual panci, sandal, perhiasan emas, dan lain-lain dapat kalian temukan juga di sini. Namun, yang selalu membuat aku kangen adalah saat berkuliner ria di kawasan Petak Sembilan ini, karena memang aku banyak menghabiskan masa kecil di daerah Gloria – Petak Sembilan – Pancoran – Glodok.

Karena itulah, belum lama ini, aku kembali menjelajahi kawasan ini untuk ber-nostalgia sekaligus memburu kuliner yang biasa aku makan sejak kecil. And you know what? Aku girang sekali, karena ternyata, para penjual makanan yang aku suka, masih ada di sana! Yay! Penjual makanan ini semakin langka, sebut saja pedagang Mipan, pedagang Congfan klasik dengan sepedanya, dan masih banyak lainnya yang harus kalian coba. Inilah rangkuman 12 Tempat Makan Rekomendasi Kuliner Glodok – Petak Sembilan bagi teman-teman yang ingin menikmati kuliner Chinatown, di pusat kota Jakarta.

1. Sate Padang Petak Sembilan, IDR 24K per 10 tusuk

Nah, ini dia salah satu langganan kami ketika berkunjung ke pusat kota, Chinatown Jakarta. Spot pertama yang recommended untuk kalian coba adalah Sate Padang Petak Sembilan, yang sudah berjualan sejak tahun 1975 dengan gerobaknya yang khas. Tempat makan yang disediakan memang kecil sekali, hanya tersedia beberapa kursi plastik saja dan biasanya dagangan mereka cepat habis bila kita datang kesorean. Bila datang siang hari, lebih mudah menemukan mereka di samping gedung Glodok city. Namun bila datangnya sore hari, mereka pindah lokasi ke depan Bank Mandiri yang ada di sepanjang jalan itu (jalan Pancoran Glodok). Sate Padang ini memang sudah terkenal sejak jaman dulu kala, dan telah turun temurun beberapa generasi hingga sekarang. Saat memesan, aku memilih agar sate yang disiapkan adalah daging semua, tanpa jeroan. Namun, mereka juga menyediakan paru, lidah, dan lain-lain. Yang khas dari sate padang ini adalah karena dagingnya begitu empuk, harum rempah pada bumbu kuning yang berlimpah, dan rasa pedas pada bumbunya yang membuat kami ketagihan!

2. Sukun Goreng, IDR 5K per piece

Sukun goreng juga merupakan makanan kesukaan sejak kecil. Pada umumnya, buah sukun yang biasa dapat ditemukan di pasar tradisional, diolah menjadi Sukun Goreng seperti ini. Sejak kecil, mama suka membuatkan sukun goreng untuk kami di rumah, dan disajikan dengan gula merah sebagai cocolan-nya. Namun, pedagang ini menjual sukun goreng layaknya gorengan pada umumnya; dinikmati begitu saja tanpa tambahan saus apapun. Sukun goreng ini cukup empuk dan gurih, enak dijadikan camilan sore hari.

3. Cong Fan Gerobak, IDR 10K per porsi

Congfan! Yay! Makanan ini juga merupakan favorit kami, namun akan susah menemukan pedagang ini bila kita datang kesorean karena bila sudah habis, si abang ini akan cepat pulang. Cong Fan mirip seperti kwetiaw, namun berbeda, karena adonannya lebih tipis, terbuat dari tepung beras dengan campuran sedikit tepung kanji. Berbeda dengan penyajian Cong Fan yang ada di restoran Chinese Food, di sini, Cong Fan atau biasa disebut Ci Cong Fan yang dijual di atas gerobak sepeda persis di depan gang kalimati ini, disajikan polos saja, digunting-gunting, kemudian diberi kecap asin, sambal, dan taburan bawang goreng di atasnya. Klasik, langka, dan pastinya, enaaaaaaaak!

4. Mipan, IDR 7K per loyang

Nah, setelah membeli Cong Fan, kami pun masuk ke dalam gang kalimati ini untuk mencari pedagang Mipan yang biasanya aku beli sejak kecil. Memang sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berkunjung kuliner ke daerah Pancoran, (Glodok), namun rasanya masih sama seperti dulu. Makanan ringan ini juga terbuat dari tepung beras, teksturnya kenyal, dan rasanya enak sekali, apalagi saat dinikmati bersama dengan topping bawang putih goreng, dan gula merah sebagai sausnya. Sederhana sekali, tapi makanan ini tak lekang oleh waktu. Gurih, asin, manis, mantap pol! We loved it!

5. Es Cincau Hijau

Aha! Tak jauh dari pedagang Mipan yang bersembunyi dekat penjual perabotan memasak, masih di dalam gang yang sama (sebuah gang kecil sebelum Gedung Chandra, dimana ujung jalan gang ini tembus ke sekolah Ricci di jalan Kemenangan 3), kita juga bernostalgia dengan Es Cincau Hijau tradisional yang sudah semakin langka di Jakarta. Minuman Cincau terbuat dari daun cincau hijau, yang kemudian menghasilkan warna hijau seperti ini. Selain segar rasanya, cincau hijau juga memiliki manfaat untuk meredakan sakit perut, panas dalam dan memimalisir tekanan darah tinggi lho! Kami pun memesan 2 gelas Es Cincau Hijau, disajikan dengan sedikit gula biang, dan kami pun langsung menikmatinya sambil berdiri di pinggir jalan.

6. Cempedak Goreng, IDR 10K

Masih di dalam gang yang sama, saat aku berjalan keluar gang, aku mencium harum aroma Cempedak Goreng dan langsung menghampiri satu rumah makan yang menjualnya. Sejak kecil, aku sering membeli cempedak goreng karena tekstur dan harumnya seperti buah nangka. Ukuran gorengan ini cukup besar, namun sayangnya, jumlah daging cempedak-nya tidak sebanyak dulu lagi. However, aku cukup puas bisa melepas kangen dengan cemilan favorit semasa kecil. Hehe..

7. Baso Goreng Amoy, IDR 6K (NON-Halal)

Nah, untuk menemukan Bakso Goreng Amoy, kita harus menyebrang jalan menuju gang kecil yang berada sebelum Gedung Gloria yang pernah terbakar beberapa tahun lalu. Gang kecil ini persis bersebelahan dengan pedagang manisan kiloan bernama Toko Manisan Acin, jadi kalian tidak akan susah menemukan gang ini. Dan biasanya orang menyebut gang ini sebagai gang Gloria. Aku pernah mencoba bakso Goreng Hosanna yang berada di depan gang, tapi baksonya tidak seenak Bakso Goreng Amoy ini. Kebetulan saat aku datang, enci penjual bakmi dan bakso goreng Amoy sedang menggoreng baksonya. Bakso Goreng Amoy enak sekali, apalagi saat masih panas, karena tekstur kulit luar tepungnya masih garing dan renyah, enak dimakan dengan sambal yang disediakan. Siomay babinya juga enak! Akan tetapi, hati-hatilah saat membeli, karena saat kunjungan kedua kemarin, mas-mas karyawan yang melayani aku saat membeli bakso gorengnya lagi, menyebutkan harga yang berbeda, lebih mahal seribu daripada kunjungan sebelumnya 2 minggu lalu.

8. Kopi Es Tak Kie, IDR 15K tanpa susu / IDR 17K dengan susu

Belum pernah tahu bahwa di gang ini pula, ada kedai kopi kecil yang posisinya cukup tersembunyi karena tokonya ditutupi dengan pedagang Nasi Campur Babi dan Sek Ba gerobakan. Nama Kedai Kopi Es Tak Kie belakangan ini cukup viral di sosial media, dan karena penasaran, aku pun sekalian mampir ke sana. Minuman signature yang kupesan, tentu saja Es Kopi Tak Kie Susu dimana semua kopi dibuat dari racikan 5 jenis kopi Lampung. Harga yang dibandrol memang murah, penyajian dingin terasa segar sekali, tapi rasanya biasa saja menurut kami berdua. Nothing special from it, but if you’re curious, you might want to come and try it, too. I still prefer Kopi Tuku or KOI Iced Coffee Macchiato. Selain kopi, mereka juga menjual makanan seperti mie, nasi tim, nasi campur, dan lain-lain, namun karena kesiangan, banyak menu makanan yang habis. Akhirnya kami mencoba nasi campur dari pedagang di depan tokonya, sayangnya, Nasi Campur Babi dengan harga IDR 40K ini membuat kami kecewa! Nasinya keras, as well as the meat and the sauces, I feel disappointed!

9. Manisan Kiloan

Di sepanjang jalan Pancoran – Glodok ini, kalian juga akan menemukan pedagang manisan dan permen yang dijual berdasarkan berat yang diambil. Kami biasa menyebut mereka dengan pedagang manisan Kiloan. Kami pun mampir ke salah satu toko manisan yang berada di depan Gang Gloria untuk membeli beberapa snack jadul, permen kiamboi, dan manisan mangga.

10. Kue Tieh 68 Ncek Santung, IDR 40K per 10 pcs (NON-Halal)

Di ujung jalan setelah melewati Gedung Gloria yang terbakar, kita kembali lagi ke tempat makan favorit kami, yaitu Kuo Tieh Ncek Santung 68 yang sudah puluhan tahun lamanya di sana. Sampai sekarang, kami masih menyukai Kuo Tieh Goreng mereka, karena tekstur kulit luar yang sedikit crispy, dan isi daging babi yang cukup padat. Review lengkap dapat dilihat pada link berikut ini: Kuo Tieh Ncek Santung 68

11. Es Susu Kacang

Di sepanjang kawasan Chinatown Jakarta ini, kita juga banyak menemukan penjual minuman Es Tebu, dan Es Susu Kacang di beberapa tempat. Salah satu yang aku kunjungi adalah Es Susu Kacang ini yang berlokasi tidak jauh dari si pedagang kelinci yang mangkal di depan Glodok City. Susu kacangnya murni, dan dijual murah, happy!

12. Pantjoran Tea House

Siapa sangka ternyata gedung tua sekalipun, bisa menjadi cafe nan unik sekaligus menarik dengan sejarah yang bercerita di dalamnya. Persis berseberangan dengan gedung Glodok City, terdapat Pantjoran Tea House, sebuah cafe yang menyajikan beragam pilihan teh, dan makanan Chinese food seperti dimsum, dan lain-lain. Review lebih lengkap dapat dilihat pada link berikut ini: Pantjoran Tea House

That’s all from me! Semoga artikel ini dapat menginspirasi kalian saat berkunjung ke daerah Pecinan – Chinatown kota Jakarta, dapat berkuliner dan ber-nostalgia bersama keluarga sambil menyusuri Kelenteng Tua, dan serunya perdagangan yang terjadi di daerah Petak Sembilan (Glodok – Pancoran). Thank you for reading! 🙂

Follow my Insta Stories to see the live updates: Myfunfoodiary

or FIND ME here: 

Author: myfunfoodiary

Myfunfoodiary as Indonesian Food and Travel Blog was born in July 2012 and has become one of the valuable online source for locals, tourists, food enthusiasts and industry professionals. It is a Jakarta based Food and Travel Blog managed by Mullie Marlina, a young, lovely, cheerful and blessed wife who loves to share her culinary and travel experiences through her writing. You’ll find her honest reviews, valuable suggestions, objective ratings and recommendation of eateries in Jakarta and selected cities in Indonesia and abroad. Her curated restaurant reviews are based on her meticulous inquiries and her rich dining experience in various restaurants in Jakarta. She has also traveled to different cities and countries where she finds interesting and inspiring dishes, cuisines and excellent dining ambience which she also included in the list. From recommendations, restaurant experiences, events, travel destinations, and recipes, readers will find anything food related in this website. She would really appreciate your feedback, and would love to hear about any suggestions, events regarding food, or just to drop in to say “Hi”. Again, thank you so much for dropping by, and she hopes you enjoy reading her journal. Thank you so much for all your supports! God bless you! ^_^

Share This Post On

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: